Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

Obsesi dan Tradisi dalam Dekonstruksi Horor Film Para Perasuk Karya Wregas Bhanuteja

badge-check


					Obsesi dan Tradisi dalam Dekonstruksi Horor Film Para Perasuk Karya Wregas Bhanuteja Perbesar

Sutradara Wregas Bhanuteja kembali menggebrak industri perfilman tanah air dengan visi artistik yang unik melalui karya terbarunya yang berjudul Para Perasuk. Film yang diproduksi dengan skala besar ini mengambil pendekatan yang tidak lazim terhadap tema kerasukan, sebuah elemen yang selama ini identik dengan genre horor murni di Indonesia. Dalam film ini, Wregas mendekonstruksi fenomena supranatural tersebut menjadi sebuah pengalaman komunal yang justru membawa euforia dan kebahagiaan bagi masyarakat desa, sekaligus menjadi medium kritik sosial terhadap ancaman modernisasi dan eksploitasi lingkungan.

Melalui konferensi pers dan pratayang yang digelar di Jakarta pada medio April 2026, terungkap bahwa Para Perasuk bukan sekadar film tentang hantu atau roh jahat. Sebaliknya, film ini mengeksplorasi sisi psikologis dan sosiologis dari tradisi yang disebut sebagai Pesta Sambetan. Di Desa Latas, wilayah fiktif yang menjadi latar utama cerita, kerasukan dipandang sebagai katarsis massal—sebuah pelarian sementara dari beban hidup yang menghimpit, mulai dari persoalan ekonomi hingga konflik domestik.

Visi Artistik Wregas Bhanuteja: Mengubah Ketakutan Menjadi Kegembiraan

Wregas Bhanuteja, yang sebelumnya sukses lewat film Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, dikenal sebagai sutradara yang gemar menyelipkan simbolisme mendalam dalam setiap bingkai visualnya. Dalam Para Perasuk, ia membawa penonton ke Desa Latas, sebuah pemukiman pinggiran kota yang mempertahankan tradisi kuno di tengah kepungan industrialisasi. Tradisi Pesta Sambetan menjadi pusat gravitasi kehidupan warga desa tersebut.

Berbeda dengan representasi kerasukan dalam film horor konvensional yang penuh dengan jeritan ketakutan dan penderitaan fisik, kerasukan dalam Para Perasuk digambarkan sebagai bentuk hiburan. Para warga yang disebut sebagai Pelamun (peserta yang bersedia dirasuki) justru mencari momen di mana kesadaran mereka diambil alih oleh roh-roh hewan. Dalam kondisi tersebut, mereka memasuki Alam Sambet, sebuah dimensi metafisika yang penuh dengan kenikmatan indrawi dan kebahagiaan semu yang tidak mereka temukan di dunia nyata.

Dialog dalam film menekankan fungsi sosial dari ritual ini: "Silakan gabung di pesta sambetan. Bareng-bareng kita lupain bentar ya cicilan, masalah keluarga lepasin semua di alam sambet." Kalimat ini mencerminkan betapa tradisi tersebut telah menjadi mekanisme pertahanan diri bagi masyarakat kelas bawah menghadapi realitas hidup yang keras.

Sinopsis dan Struktur Narasi: Ambisi di Balik Ritual Kerasukan

Inti cerita berpusat pada tokoh Bayu, yang diperankan oleh Angga Yunanda. Bayu adalah seorang pemuda ambisius yang tinggal di Desa Latas dan memiliki obsesi besar untuk menjadi seorang Perasuk. Dalam hierarki sosial desa tersebut, Perasuk memiliki kedudukan terhormat karena mereka adalah individu yang memiliki kemampuan untuk memanggil, mengendalikan, dan mengarahkan roh-roh hewan agar masuk ke tubuh para Pelamun.

Kesempatan emas bagi Bayu muncul ketika Asri (diperankan oleh Anggun), seorang guru senior dari sanggar sambetan pusat, mengumumkan pencarian Perasuk baru. Tugas utama Perasuk ini adalah memimpin sebuah pesta sambetan akbar yang bertujuan untuk penggalangan dana. Dana tersebut sangat krusial bagi keberlangsungan desa karena Desa Latas sedang terancam oleh ekspansi perusahaan besar bernama Wanaria. Perusahaan tersebut berencana menggusur sumber mata air keramat di desa itu untuk kepentingan industri, padahal mata air tersebut diyakini sebagai titik koneksi spiritual utama antara dunia manusia dan roh-roh hewan.

Perjalanan Bayu untuk menjadi Perasuk Utama tidaklah mudah. Ia harus menjalani latihan fisik yang sangat berat dan pengolahan batin yang intens untuk menyelaraskan frekuensi tubuhnya dengan roh-roh alam. Di sisi lain, ia harus bersaing dengan dua kandidat kuat lainnya, yakni Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan). Persaingan ini bukan hanya soal kemampuan teknis ritual, melainkan juga pertarungan ego dan obsesi yang mulai mengaburkan batas antara dedikasi pada tradisi dan ambisi pribadi.

Konflik semakin tajam ketika Bayu harus berhadapan dengan ayahnya sendiri (Indra Birowo) yang memiliki pandangan berbeda, serta hubungannya yang kompleks dengan Laksmi (Maudy Ayunda). Laksmi adalah seorang Pelamun yang sering masuk ke Alam Sambet. Kedekatan Bayu dengan Laksmi membawanya pada dilema moral: apakah ia mencintai Laksmi sebagai manusia di dunia nyata, ataukah ia terobsesi pada pengalaman spiritual yang mereka bagikan saat berada di ambang kesadaran?

Eksplorasi Metafisika: 20 Roh Hewan dan Sensasi Alam Sambet

Salah satu aspek teknis yang paling menarik dalam Para Perasuk adalah detail mengenai jenis-jenis kerasukan. Tim produksi mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 20 jenis roh hewan yang dapat merasuki manusia dalam film ini, masing-masing memberikan efek psikis dan fisik yang berbeda.

Sebagai contoh, roh bulus atau kura-kura digambarkan memberikan sensasi relaksasi yang luar biasa. Pelamun yang kerasukan roh ini akan merasa seolah-olah sedang mendapatkan pijatan seluruh tubuh yang sangat nikmat di Alam Sambet, meskipun di dunia nyata tubuh mereka mungkin sedang mengalami guncangan atau benturan fisik akibat gerakan yang tidak terkontrol. Kontras antara apa yang dirasakan secara batiniah dan apa yang terjadi secara fisik menjadi poin krusial yang menyoroti aspek pelarian (escapism) dalam film ini.

Penggambaran Alam Sambet dilakukan dengan estetika visual yang kontras dengan realitas Desa Latas yang berdebu dan terancam alat berat. Penggunaan warna-warna saturasi tinggi dan desain suara yang imersif dirancang untuk membuat penonton ikut merasakan "candu" yang dirasakan oleh para karakter dalam film tersebut.

Obsesi dalam balutan pesta kerasukan di film "Para Perasuk"

Konteks Produksi dan Keterlibatan Aktor Papan Atas

Pemilihan pemain dalam Para Perasuk menunjukkan ambisi besar untuk menyasar penonton luas sekaligus mempertahankan kualitas akting yang solid. Angga Yunanda kembali membuktikan transformasinya sebagai aktor watak dengan melakukan persiapan fisik yang signifikan demi peran Bayu. Dilaporkan bahwa para aktor utama harus menjalani workshop khusus selama beberapa bulan untuk mempelajari gerakan-gerakan hewan dan teknik pernapasan tertentu guna memberikan performa kerasukan yang meyakinkan tanpa terlihat karikatural.

Kembalinya Maudy Ayunda ke layar lebar juga menjadi sorotan. Perannya sebagai Laksmi menuntut kedalaman emosional yang tinggi, menggambarkan kerentanan seorang individu yang mencari kedamaian dalam dunia transenden karena ketidakberdayaan di dunia nyata. Sementara itu, kehadiran Anggun sebagai sosok guru spiritual memberikan wibawa tersendiri pada film ini, memperkuat elemen tradisi yang sakral sekaligus misterius.

Dari sisi produksi, film ini memanfaatkan teknologi sinematografi terkini untuk menangkap detail ekspresi wajah saat proses trans atau kerasukan terjadi. Penggunaan efek praktis yang dipadukan dengan CGI minimalis bertujuan untuk menjaga kesan organik dan autentik dari ritual yang ditampilkan.

Analisis Fakta: Isu Lingkungan dan Kritik Terhadap Korporasi

Di balik kemasan supranaturalnya, Para Perasuk membawa pesan lingkungan yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Konflik antara warga Desa Latas dengan perusahaan Wanaria mencerminkan banyaknya sengketa lahan dan sumber daya alam yang terjadi di berbagai pelosok negeri.

Mata air keramat dalam film ini berfungsi sebagai metafora bagi identitas dan akar budaya masyarakat. Ketika perusahaan besar datang dengan dalih pembangunan, yang terancam bukan hanya akses terhadap air bersih, melainkan juga hancurnya ekosistem spiritual dan sosial yang telah terbentuk selama berabad-abad. Strategi warga desa yang menggunakan Pesta Sambetan sebagai sarana penggalangan dana menunjukkan bentuk perlawanan kreatif masyarakat adat dalam mempertahankan hak-hak mereka.

Namun, Wregas juga memberikan peringatan melalui karakter Bayu. Obsesi untuk menyelamatkan tradisi terkadang bisa berbalik menjadi obsesi terhadap kekuasaan dan pengakuan pribadi. Film ini mempertanyakan apakah tujuan mulia dapat menghalalkan segala cara, termasuk ketika seseorang mulai kehilangan kemanusiaannya demi menjadi "medium" bagi kekuatan lain.

Tanggapan dan Ekspektasi Industri

Sejak pengumuman produksinya, Para Perasuk telah menjadi salah satu film yang paling dinantikan di tahun 2026. Para kritikus film menilai bahwa langkah Wregas untuk menjauh dari pakem horor "jump scare" dan beralih ke horor sosiologis-psikologis adalah langkah berani yang dapat menaikkan kelas perfilman Indonesia di kancah internasional.

Industri film nasional dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan tren peningkatan kualitas narasi pada genre horor dan thriller. Film seperti Para Perasuk diharapkan mampu mengikuti jejak kesuksesan film-film Indonesia sebelumnya di festival internasional, dengan menawarkan konten yang berakar kuat pada lokalitas namun memiliki relevansi global.

Beberapa pengamat budaya juga memberikan catatan positif mengenai cara film ini memotret fenomena kerasukan. Alih-alih memberikan stigma negatif atau menganggapnya sebagai praktik klenik yang terbelakang, film ini mencoba memahami posisi fenomena tersebut dalam struktur psikologi masyarakat komunal. Hal ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman ekspresi budaya di Indonesia.

Dampak dan Implikasi Luas

Kehadiran Para Perasuk diprediksi akan memicu diskusi publik mengenai batas antara tradisi dan modernitas. Film ini memaksa penonton untuk merefleksikan kembali apa yang mereka anggap sebagai "waras" dan "tidak waras" di tengah dunia yang semakin kacau. Jika kerasukan dapat membawa kebahagiaan bagi mereka yang tertindas, lantas siapa yang berhak menghakimi kebahagiaan tersebut?

Secara ekonomi, kesuksesan film ini juga diharapkan dapat mendorong gairah industri kreatif di lokasi-lokasi syuting yang digunakan, serta memberikan ruang bagi talenta-talenta lokal untuk terlibat dalam produksi berskala besar. Dengan narasi yang kuat, jajaran pemain bintang, dan arahan sutradara yang visioner, Para Perasuk memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu karya monumental dalam sejarah perfilman modern Indonesia.

Sebagai penutup, film ini bukan sekadar tontonan tentang pesta kerasukan, melainkan sebuah refleksi tentang manusia yang berusaha mencari makna di tengah ancaman kehilangan jati diri. Desa Latas mungkin sebuah fiksi, namun perjuangan warganya dalam mempertahankan mata air dan tradisi mereka adalah potret nyata dari banyak wajah Indonesia hari ini. Melalui Para Perasuk, penonton diajak untuk masuk ke "Alam Sambet" dan melihat dunia dari perspektif yang sama sekali baru—di mana batas antara sadar dan tak sadar, antara manusia dan roh, serta antara obsesi dan dedikasi, menjadi sangat tipis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komitmen Estetik Baim Wong dalam Film Semua Akan Baik-Baik Saja dan Prinsip Casting Tanpa Kompromi untuk Karakter Vital

7 Mei 2026 - 06:09 WIB

Omar Daniel Ungkap Motivasi Perankan Karakter Sandwich Generation dalam Film Keluarga Suami Adalah Hama

7 Mei 2026 - 00:09 WIB

Eksplorasi Kemanusiaan Melalui Lensa Reza Rahadian dalam Film Pendek Annisa Menuju Panggung Internasional Cannes Film Festival 2026

6 Mei 2026 - 06:09 WIB

Reza Rahadian Eksplorasi Dunia Disabilitas Melalui Film Pendek Annisa dalam Program Next Step Studio Indonesia

6 Mei 2026 - 00:09 WIB

Prilly Latuconsina Soroti Fenomena Relasi Sosial Transaksional Lewat Peran Pocong di Film Holy Crowd yang Melenggang ke Cannes 2026

5 Mei 2026 - 18:09 WIB

Trending di Hiburan