Pemerintah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, secara resmi menyelenggarakan Festival Jerami Banjarejo 2018 sebagai bagian dari peringatan hari jadi Desa Wisata Banjarejo yang kedua. Perhelatan seni kolosal ini berlangsung selama dua pekan, terhitung mulai tanggal 17 Oktober hingga berakhir pada 28 Oktober 2018. Berlokasi di Lapangan Barak, festival ini mengintegrasikan potensi lokal sektor pertanian dengan kekayaan historis wilayah tersebut sebagai salah satu lumbung fosil purba di Indonesia. Melalui pemanfaatan limbah pertanian berupa jerami, masyarakat setempat berhasil mentransformasi material yang semula bernilai ekonomi rendah menjadi puluhan karya seni instalasi raksasa yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Secara geografis dan kultural, Desa Banjarejo telah lama dikenal sebagai wilayah yang memiliki keterikatan kuat dengan masa prasejarah. Penemuan berbagai fragmen fosil hewan purba seperti gajah jenis Stegodon, kerbau purba, hingga hiu purba di kawasan ini menjadi fondasi utama pemilihan tema festival. Kepala Desa Banjarejo, Ahmad Taufik, menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan bentuk apresiasi terhadap identitas desa. Pemilihan jerami sebagai bahan baku utama didasari oleh realitas sosiologis masyarakat Banjarejo yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Jerami dipandang sebagai simbol kesuburan sekaligus material yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, sehingga proses pengerjaannya melibatkan partisipasi aktif dari setiap dusun di lingkungan Desa Wisata Banjarejo.

Kronologi persiapan festival ini dimulai beberapa bulan sebelum pembukaan resmi, di mana warga dari masing-masing dusun mulai merancang kerangka struktur patung menggunakan bambu dan kayu. Setelah kerangka dasar terbentuk, jerami yang telah dikumpulkan dari lahan persawahan pasca-panen diikat dan disusun sedemikian rupa hingga membentuk anatomi hewan yang diinginkan. Proses ini menuntut ketelitian dan kerja sama tim yang solid, mencerminkan semangat gotong royong yang masih kental di pedesaan Jawa Tengah. Puncak dari upaya kolektif ini adalah hadirnya sekitar 40 patung jerami dengan berbagai bentuk dan ukuran yang dipamerkan di Lapangan Barak, sebuah area terbuka yang terletak tidak jauh dari Rumah Fosil Banjarejo, ikon utama desa wisata tersebut.
Di antara puluhan instalasi yang dipamerkan, terdapat beberapa karya yang menjadi primadona bagi pengunjung. Sebuah patung gorila raksasa atau "King Kong" dengan tinggi mencapai beberapa meter berdiri kokoh menyambut wisatawan di area festival. Selain itu, terdapat representasi hiu purba (Megalodon) dan gajah purba raksasa yang dibuat dengan skala yang sangat besar. Kehadiran patung-patung bertema purbakala ini bertujuan untuk memberikan edukasi visual kepada masyarakat mengenai jenis-jenis fauna yang pernah mendiami wilayah Grobogan ribuan tahun silam. Selain hewan purba, terdapat pula ornamen-ornamen unik lainnya yang menambah keragaman estetika di lapangan pameran, memberikan banyak opsi bagi pengunjung untuk mendokumentasikan kunjungan mereka melalui swafoto.
Data pendukung menunjukkan bahwa penyelenggaraan festival ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Dengan harga tiket masuk yang dibanderol sebesar Rp10.000 per orang, panitia tidak hanya menyediakan akses ke area patung jerami, tetapi juga fasilitas pendukung seperti Taman Ganesha. Pendapatan dari tiket masuk dialokasikan kembali untuk pengelolaan desa wisata dan pengembangan infrastruktur lokal. Selain itu, keberadaan festival ini memicu tumbuhnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi. Warga setempat memanfaatkan momentum ini dengan membuka gerai kuliner, jasa parkir, hingga penjualan suvenir khas desa, yang secara langsung meningkatkan perputaran uang di tingkat desa.

Ahmad Taufik dalam keterangannya menekankan bahwa efisiensi biaya adalah salah satu keunggulan dari Festival Jerami Banjarejo. "Kami memilih jerami karena bahan bakunya murah dan melimpah di desa kami. Ini adalah limbah pertanian yang biasanya hanya dibakar atau dijadikan pakan ternak. Dengan sentuhan seni, jerami ini memiliki nilai jual tinggi dan mampu menarik ribuan orang datang ke Banjarejo," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan strategi pengembangan pariwisata berbasis komunitas (Community Based Tourism/CBT) yang diterapkan di Banjarejo, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam penciptaan atraksi wisata.
Analisis terhadap dampak jangka panjang menunjukkan bahwa Festival Jerami Banjarejo 2018 berhasil memperkuat posisi Kabupaten Grobogan dalam peta pariwisata Jawa Tengah. Selama ini, Grobogan mungkin lebih dikenal melalui objek wisata Bledug Kuwu, namun dengan keberhasilan Desa Wisata Banjarejo mengelola narasi fosil dan seni jerami, muncul alternatif destinasi baru yang bersifat edukatif dan rekreatif. Festival ini juga menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran pemerintah daerah bukan merupakan penghalang bagi desa untuk berinovasi, selama terdapat kepemimpinan desa yang visioner dan dukungan masyarakat yang kuat.
Secara teknis, tantangan utama dalam festival ini adalah faktor cuaca dan daya tahan material jerami. Mengingat jerami adalah bahan organik yang mudah terbakar dan rentan terhadap kelembapan tinggi, panitia melakukan pengawasan ketat di area pameran. Larangan merokok di dekat patung dan pengaturan tata letak instalasi dilakukan untuk meminimalisir risiko kebakaran. Meskipun demikian, tekstur jerami yang unik memberikan sensasi visual yang tidak ditemukan pada material modern seperti beton atau fiberglass, memberikan kesan organik yang menyatu dengan alam pedesaan.

Respons dari pengunjung terpantau sangat positif, terutama dari kalangan keluarga dan generasi muda yang aktif di media sosial. Visualisasi patung raksasa yang unik menjadi konten yang sangat viral di platform seperti Instagram dan Facebook, yang secara tidak langsung bertindak sebagai sarana promosi gratis bagi Desa Wisata Banjarejo. Hal ini membuktikan bahwa estetika visual yang dipadukan dengan narasi sejarah lokal merupakan formula yang efektif dalam menarik minat wisatawan di era digital.
Selain pameran patung, Festival Jerami Banjarejo juga menjadi ajang penguatan literasi sejarah. Para pemandu lokal di Rumah Fosil Banjarejo seringkali memberikan penjelasan tambahan kepada pengunjung festival mengenai hubungan antara patung jerami yang mereka lihat dengan temuan fosil asli yang tersimpan di museum desa. Hal ini menciptakan kesinambungan antara hiburan populer dan pengetahuan ilmiah, menjadikan kunjungan wisatawan lebih bermakna.
Implikasi lebih luas dari kesuksesan acara ini adalah munculnya kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Penggunaan limbah jerami merupakan kampanye implisit mengenai daur ulang dan pemanfaatan sumber daya terbarukan. Di saat banyak daerah berjuang mengatasi limbah pertanian, Banjarejo memberikan solusi kreatif yang mampu menggerakkan roda ekonomi sekaligus melestarikan budaya. Festival ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang terus berkembang, dengan kualitas karya yang semakin meningkat dan manajemen penyelenggaraan yang semakin profesional.

Menjelang penutupan festival pada 28 Oktober 2018, yang juga bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, panitia telah menyiapkan serangkaian acara penutup untuk mengapresiasi partisipasi warga. Festival Jerami Banjarejo 2018 bukan sekadar perayaan ulang tahun desa, melainkan sebuah tonggak sejarah bagi Kabupaten Grobogan dalam membuktikan bahwa sinergi antara tradisi agraris, kekayaan prasejarah, dan kreativitas modern dapat menghasilkan sebuah mahakarya yang membanggakan di tingkat nasional.
Bagi wisatawan yang belum sempat berkunjung, lokasi Lapangan Barak di Desa Banjarejo dapat dijangkau dengan perjalanan darat dari pusat kota Purwodadi maupun dari arah Semarang. Aksesibilitas yang semakin membaik dan keramahan penduduk lokal menjadi nilai tambah yang memastikan setiap pengunjung mendapatkan pengalaman wisata pedesaan yang autentik. Festival ini berakhir pada akhir Oktober, namun warisan semangat kreativitas yang ditinggalkannya dipastikan akan terus hidup dalam pengembangan Desa Wisata Banjarejo di masa-masa mendatang. Dengan berakhirnya event ini, Pemerintah Desa Banjarejo berkomitmen untuk terus menggali potensi-potensi tersembunyi lainnya guna mempertahankan statusnya sebagai salah satu desa wisata percontohan di Jawa Tengah.









