Sektor pariwisata di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tengah berada dalam fase krusial seiring dengan penetapan kawasan ini sebagai penyangga utama Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. Namun, di balik pesatnya pertumbuhan destinasi berbasis komunitas di kawasan Bukit Menoreh, muncul kritik tajam dari legislatif terkait efektivitas dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo. Kesenjangan antara inisiatif masyarakat dalam menciptakan destinasi baru dengan intervensi kebijakan, infrastruktur, dan tata kelola pemerintah menjadi sorotan utama yang memicu perdebatan mengenai kesiapan daerah menyambut arus wisatawan pasca-beroperasinya Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
Kritik Legislatif: Antara Inisiatif Warga dan Absennya Intervensi Pemerintah
Ketua DPRD Kabupaten Kulon Progo, Akhid Nuryati, secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap progres pembangunan industri pariwisata yang dianggap belum maksimal dalam satu tahun terakhir. Menurutnya, ledakan objek wisata di kawasan perbukitan Menoreh, seperti di Kecamatan Kokap, Girimulyo, dan Samigaluh, murni merupakan buah dari kreativitas dan kemandirian masyarakat lokal. Destinasi seperti Pule Payung, Gunung Gajah, serta sentra agrowisata kopi, teh, dan bunga krisan telah menjadi magnet baru bagi wisatawan, namun kontribusi konkret Dinas Pariwisata setempat dinilai masih minim.
Dalam pandangan DPRD, pemerintah daerah seharusnya tidak hanya bertindak sebagai penonton, melainkan sebagai fasilitator utama yang menjembatani pengembangan infrastruktur, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), hingga kelembagaan kepariwisataan. Kritik ini menyasar pada ketimpangan antara visi besar yang diusung oleh kepala daerah untuk menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi dengan realitas di lapangan yang masih kekurangan dukungan sarana prasarana penunjang yang memadai.
Urgensi Reformasi Tata Kelola Retribusi dan Promosi
Salah satu poin krusial yang diangkat dalam evaluasi DPRD adalah sistem penarikan retribusi wisata yang dinilai masih rentan terhadap kebocoran. Sistem manual atau pengelolaan yang belum terdigitalisasi dengan baik menjadi celah hilangnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Akhid Nuryati menekankan bahwa modernisasi sistem retribusi adalah langkah mutlak untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi.
Di sisi lain, DPRD mengapresiasi upaya tim promosi pariwisata yang dinilai cukup agresif dan kreatif dalam memasarkan destinasi Kulon Progo ke pasar nasional maupun internasional. Namun, apresiasi ini diberikan dengan catatan. Promosi yang masif harus diimbangi dengan kesiapan sarana dan prasarana di destinasi. Jika promosi berhasil menarik minat pengunjung tetapi tidak diikuti oleh kesiapan fasilitas seperti akses jalan yang memadai, sanitasi yang layak, serta manajemen kerumunan yang profesional, maka dikhawatirkan akan terjadi kekecewaan wisatawan yang berdampak negatif pada citra daerah dalam jangka panjang.
Program Bedah Menoreh: Visi Strategis Pemerintah Daerah
Menanggapi kritik tersebut, Bupati Kulon Progo menegaskan bahwa pemerintah daerah telah merancang langkah strategis melalui program yang dikenal dengan "Bedah Menoreh". Program ini merupakan cetak biru pembangunan komprehensif yang mencakup pembenahan infrastruktur jalan, pengembangan sektor pariwisata, penguatan perkebunan, hingga optimalisasi moda transportasi dan pelestarian budaya.
Tujuan utama dari program ini adalah memastikan Kulon Progo tidak hanya sekadar menjadi daerah transit bagi wisatawan yang mendarat di YIA, tetapi bertransformasi menjadi destinasi utama yang mampu menahan wisatawan untuk tinggal lebih lama. Konektivitas menjadi prioritas utama. Pemkab tengah mengupayakan penyelesaian akses jalan yang menghubungkan Bandara YIA di Temon menuju Borobudur melalui jalur strategis yang melintasi Kokap, Girimulyo, Samigaluh, hingga Kalibawang. Pembangunan jalur ini merupakan kolaborasi antara Pemkab Kulon Progo, Pemerintah Daerah DIY, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Pemetaan Potensi Kawasan Bukit Menoreh
Kawasan Bukit Menoreh menyimpan potensi kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Di Kecamatan Girimulyo saja, tercatat tidak kurang dari 15 objek wisata yang menawarkan variasi pengalaman, mulai dari wisata minat khusus seperti susur gua (caving), wisata air terjun (curug), hingga wisata religi. Keberagaman ini memberikan opsi yang luas bagi segmentasi pasar yang berbeda.
Selain itu, kawasan Kebun Teh Nglinggo dan Tritis telah diproyeksikan sebagai salah satu ikon penyangga KSPN Borobudur. Pemerintah daerah sedang berupaya menyiapkan ekosistem wisata di sana, termasuk memberikan pelatihan bagi masyarakat setempat agar mampu mengelola objek wisata dengan standar profesional tanpa menghilangkan kearifan lokal yang menjadi daya tarik utama. Penataan infrastruktur di titik-titik tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat pedesaan.
Analisis Implikasi: Tantangan Keberlanjutan Pariwisata
Secara analitis, situasi yang terjadi di Kulon Progo merupakan cerminan dari dinamika pertumbuhan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) yang seringkali bergerak lebih cepat daripada birokrasi pemerintah. Fenomena ini membawa beberapa implikasi penting:
- Risiko Kejenuhan Destinasi: Pertumbuhan objek wisata yang sporadis tanpa perencanaan tata ruang yang ketat berisiko menyebabkan kerusakan lingkungan di kawasan perbukitan yang rawan longsor. Pemerintah perlu segera menerapkan aturan zonasi wisata yang ketat.
- Kualitas Pelayanan: Ketergantungan pada pengelolaan masyarakat lokal memerlukan pendampingan berkelanjutan. Tanpa sertifikasi dan standardisasi layanan, kualitas pengalaman wisatawan akan sangat fluktuatif, yang pada akhirnya dapat merusak reputasi destinasi.
- Kesiapan Infrastruktur Digital: Mengingat era pariwisata 4.0, digitalisasi tidak hanya terbatas pada promosi, tetapi juga pada sistem integrasi tiket, pemantauan kunjungan, dan data analitik wisatawan. Kesenjangan teknologi antara pengelola wisata desa dan kebutuhan pasar harus segera ditutup.
- Sinergi Antar-Sektor: Keberhasilan Bedah Menoreh sangat bergantung pada koordinasi lintas sektor. Sektor perkebunan (kopi/teh) harus berjalan beriringan dengan sektor pariwisata untuk menciptakan paket wisata yang autentik (agrowisata).
Kronologi dan Langkah ke Depan
- Tahun 2019-2020: Pertumbuhan pesat objek wisata berbasis komunitas di perbukitan Menoreh sebagai respon atas pembangunan Bandara YIA.
- Tahun 2021-2022: Pemerintah mulai menggencarkan konsep "Bedah Menoreh" sebagai jawaban atas tantangan konektivitas menuju KSPN Borobudur.
- Tahun 2023: DPRD memberikan catatan evaluasi terkait belum optimalnya dukungan infrastruktur dan manajemen retribusi yang transparan.
- Target 2024 dan seterusnya: Integrasi penuh jalur Bedah Menoreh dan peningkatan kapasitas SDM pelaku wisata melalui program sertifikasi kompetensi.
Kesimpulannya, perdebatan antara legislatif dan eksekutif di Kulon Progo merupakan bentuk dialektika yang wajar dalam sebuah proses pembangunan daerah. Kritik DPRD berfungsi sebagai pengingat bahwa pembangunan fisik (infrastruktur) tidak akan memiliki nilai guna maksimal jika tidak diiringi dengan manajemen tata kelola yang modern dan pendampingan masyarakat yang intensif.
Dengan posisi geografis yang strategis sebagai gerbang utama masuknya wisatawan melalui bandara internasional, Kulon Progo memiliki peluang emas untuk memenangkan kompetisi pariwisata regional. Namun, keberhasilan ini menuntut sinergi yang lebih solid antara Pemkab, pelaku usaha, dan masyarakat lokal. Tantangan sesungguhnya bagi pemerintah daerah adalah bagaimana mengubah potensi "wisata komunitas" yang masih bersifat organik menjadi industri pariwisata yang terintegrasi, profesional, dan berkelanjutan, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat luas, bukan hanya segelintir pengelola destinasi.
Langkah Pemkab Kulon Progo dalam memprioritaskan penyelesaian akses jalan Bedah Menoreh merupakan langkah awal yang tepat. Namun, perlu ada percepatan pada aspek pendukung lainnya, seperti peningkatan kualitas SDM pelaku wisata melalui literasi digital dan manajemen keuangan, agar setiap destinasi yang tumbuh di kawasan Bukit Menoreh tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi menjadi aset berkelanjutan yang mampu bertahan di tengah persaingan global KSPN Borobudur.









