Di tengah bayang-bayang ancaman krisis pangan global yang diperburuk oleh perubahan iklim dan ledakan populasi, Indonesia dihadapkan pada urgensi untuk mendiversifikasi sumber nutrisi masyarakat. Fokus ketahanan pangan yang selama ini terlalu bertumpu pada komoditas daratan, seperti beras dan daging ternak, mulai digeser ke arah potensi perairan yang melimpah. Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah laut mencapai dua pertiga dari total luas teritorialnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam mengembangkan blue food atau pangan biru. Pangan biru mencakup segala bentuk nutrisi yang dipanen dari ekosistem perairan, baik laut maupun darat, termasuk ikan, kerangka krustasea, hingga rumput laut.
Wacana ini mengemuka dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) yang berlangsung di Auditorium Harjono Danoesastro, Yogyakarta, pada Sabtu (25/7). Forum akademik ini menjadi titik temu bagi para pakar, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk merumuskan peta jalan transformasi sistem pangan akuatik yang berkelanjutan di tengah tantangan demografi dunia yang diproyeksikan mencapai 9,66 miliar jiwa pada tahun 2050.
Transformasi Sistem Pangan Menuju Ketahanan Nasional
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan nasional tidak lagi bisa mengandalkan metode konvensional berbasis daratan semata. Ia menekankan perlunya pengelolaan sumber daya perairan yang inovatif dan berbasis pada bukti ilmiah. Menurutnya, potensi laut Indonesia yang belum tereksplorasi secara maksimal merupakan aset strategis yang harus dikelola dengan pendekatan berkelanjutan untuk menjawab kebutuhan protein masa depan.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyoroti peran vital pangan biru dalam pemenuhan gizi bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. Danang menekankan bahwa mengubah pola konsumsi masyarakat yang selama ini lebih terpaku pada sumber protein darat menjadi tantangan kultural yang harus diatasi melalui kampanye edukatif yang masif. Ia berharap sinergi antara kebijakan pemerintah, riset akademis, dan adopsi teknologi dapat menempatkan sektor blue food sebagai tulang punggung ekonomi nasional di masa depan.
Proyeksi Kebutuhan Protein dan Tantangan Global
Kebutuhan akan pangan biru bukan sekadar wacana akademis, melainkan kebutuhan mendesak yang didorong oleh data empiris. Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana, S.Pi., M.Sc., memaparkan fakta yang cukup krusial: proyeksi kenaikan kebutuhan protein ikan dunia diprediksi melonjak hingga 67 persen seiring dengan pertumbuhan populasi global.
Di sisi lain, sektor pertanian berbasis daratan saat ini tengah tertekan oleh berbagai kendala struktural, mulai dari alih fungsi lahan pertanian produktif, degradasi kualitas tanah, hingga anomali iklim yang menurunkan produktivitas panen secara signifikan. Dalam konteks inilah, blue food menjadi solusi alternatif yang tangguh. Erwin merumuskan lima pilar utama pengembangan blue food yang harus diimplementasikan secara komprehensif, yakni:
- Ketersediaan: Menjamin pasokan pangan akuatik yang stabil sepanjang tahun.
- Keterjangkauan: Memastikan harga produk perikanan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
- Pemenuhan Gizi: Mengoptimalkan kandungan mikronutrien dalam komoditas perairan.
- Mutu dan Keamanan Pangan: Menjaga standar kualitas dari tahap penangkapan hingga ke tangan konsumen.
- Keberlanjutan: Menerapkan praktik budidaya dan penangkapan yang menjaga kelestarian ekosistem laut.
Inovasi Teknologi dan Diversifikasi Produk Pangan
Salah satu hambatan utama dalam meningkatkan konsumsi pangan biru adalah preferensi selera masyarakat yang masih terbatas pada bentuk olahan tradisional. Dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., menawarkan terobosan melalui riset inkorporasi mikroalga dan makroalga ke dalam matriks pangan harian.
Inovasi ini bertujuan untuk mengintegrasikan nutrisi dari perairan ke dalam makanan yang lebih akrab di lidah masyarakat, seperti mie, mochi, dan es krim. Pendekatan ini dinilai sangat efektif untuk meningkatkan minat konsumsi publik terhadap produk perikanan. Menurut Dr. Nurfitri, keberhasilan blue food sangat bergantung pada aspek sensorik; makanan tersebut tidak hanya harus sehat, tetapi juga harus lezat agar dapat diterima secara luas sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Sinergi Multisektoral dalam Riset dan Pengembangan
Seminar SEMNASKAN-UGM XXIII yang diketuai oleh Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., menjadi wadah bagi 109 pemakalah dan perwakilan dari 15 institusi pendidikan tinggi di Indonesia untuk menyatukan visi. Acara ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan langkah konkret untuk mempertemukan hasil riset perikanan dengan kebutuhan pasar dan kebijakan pemerintah.
Kolaborasi antara akademisi dan pelaku industri perikanan menjadi kunci dalam menjembatani kesenjangan antara laboratorium dan pasar. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan gagasan-gagasan yang lahir dari seminar ini dapat diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berdampak langsung pada kesejahteraan nelayan maupun pembudidaya ikan di daerah.
Analisis Implikasi dan Prospek Masa Depan
Jika Indonesia mampu mengoptimalkan potensi blue food, dampaknya tidak hanya terbatas pada ketahanan pangan, tetapi juga pada penguatan ekonomi biru (blue economy). Analisis ekonomi menunjukkan bahwa pengembangan sektor perikanan yang bernilai tambah tinggi, seperti pengolahan rumput laut menjadi bahan baku industri atau ekspor produk perikanan olahan, akan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, tantangan dalam implementasi ini tetap ada, terutama terkait dengan penegakan hukum terhadap illegal fishing, pengelolaan limbah perairan, serta kesiapan infrastruktur rantai dingin (cold chain) di wilayah-wilayah terpencil. Pemerintah perlu melakukan intervensi kebijakan yang lebih agresif dalam penyediaan teknologi penangkapan yang efisien serta dukungan modal bagi para pelaku usaha kecil di sektor kelautan.
Selain itu, keberhasilan transisi menuju sistem pangan berbasis akuatik ini akan sangat menentukan posisi Indonesia dalam peta ketahanan pangan dunia. Dengan mengintegrasikan sains dan teknologi, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi produsen utama pangan biru di tingkat regional Asia Tenggara maupun global. Hal ini sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045, di mana ketahanan pangan menjadi syarat mutlak bagi kemajuan bangsa.
Kesimpulan dan Langkah Selanjutnya
Pemanfaatan sumber daya perairan sebagai pilar ketahanan pangan nasional merupakan langkah taktis yang tidak bisa ditunda. Melalui sinergi antara akademisi seperti yang ditunjukkan oleh UGM, regulator di KKP, serta partisipasi aktif masyarakat dalam mengubah pola konsumsi, Indonesia dapat membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Langkah selanjutnya yang perlu diambil adalah memperkuat literasi masyarakat mengenai manfaat nutrisi dari pangan biru serta mendorong investasi riset yang lebih dalam pada teknologi budidaya yang ramah lingkungan. Dengan mengedepankan inovasi, kolaborasi lintas sektor, dan keberlanjutan ekosistem, Indonesia tidak hanya akan mampu memenuhi kebutuhan protein domestik, tetapi juga berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan global yang terus meningkat.
Penyelenggaraan SEMNASKAN-UGM XXIII telah berhasil meletakkan fondasi diskursus yang penting bagi masa depan sektor kelautan. Kini, tantangan sebenarnya terletak pada konsistensi implementasi kebijakan di lapangan serta keberlanjutan dukungan riset yang mampu menjawab kebutuhan zaman, menjadikan Indonesia sebagai pusat kekuatan blue food dunia yang berbasis pada sains dan kearifan lokal.









