Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Peristiwa

IDAI Tekankan Pentingnya Komunikasi dan Deteksi Dini Perilaku Anak untuk Mencegah Gangguan Kesehatan Mental

badge-check


					IDAI Tekankan Pentingnya Komunikasi dan Deteksi Dini Perilaku Anak untuk Mencegah Gangguan Kesehatan Mental Perbesar

Dalam upaya memperkuat fondasi kesehatan mental generasi muda Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kembali menegaskan urgensi peran orang tua dalam memantau tumbuh kembang psikologis anak. Melalui webinar kesehatan yang diselenggarakan pada Selasa, 21 Juli 2026, pakar tumbuh kembang dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K), memaparkan bahwa deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak merupakan kunci krusial untuk mencegah eskalasi masalah kesehatan mental yang lebih serius di masa depan.

Pernyataan ini muncul di tengah momentum peringatan Hari Anak Nasional yang baru saja dirayakan di berbagai daerah, termasuk kegiatan edukatif di Hutan Kota Tibang, Banda Aceh, yang melibatkan ribuan murid PAUD dan TK. Fokus pada kesehatan mental anak menjadi relevan mengingat semakin kompleksnya tantangan hidup yang dihadapi anak dan remaja di era digital, yang kerap kali tidak terdeteksi oleh orang tua karena dianggap sebagai fase pertumbuhan biasa atau sekadar fase pubertas.

Fenomena Gunung Es Gangguan Mental pada Anak

Gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja sering kali digambarkan sebagai fenomena gunung es. Permukaan yang terlihat hanyalah perubahan perilaku ringan, sementara akar permasalahannya bisa jauh lebih dalam dan kompleks. Dr. Angga menjelaskan bahwa depresi pada kelompok usia muda tidak selalu bermanifestasi sebagai kesedihan yang mendalam. Sering kali, depresi justru muncul dalam bentuk anhedonia, yakni hilangnya minat secara drastis terhadap aktivitas atau hobi yang sebelumnya sangat digemari oleh anak.

Selain hilangnya motivasi, indikator lain yang harus diwaspadai orang tua meliputi penurunan nafsu makan yang signifikan, gangguan pola tidur, serta perasaan tidak berharga atau rendah diri yang terus-menerus. Kondisi ini, jika dibiarkan tanpa intervensi profesional, dapat mengganggu fungsi sosial anak di sekolah maupun di lingkungan pergaulannya.

Sementara itu, gangguan kecemasan (anxiety) memiliki spektrum gejala yang lebih fisik. Banyak anak dan remaja melaporkan keluhan somatik, seperti sakit perut mendadak, sakit kepala, atau mual tanpa penyebab medis yang jelas. Ketika diperiksa secara klinis, tidak ditemukan kelainan organ, namun anak tetap merasakan sakit. Hal ini sering kali merupakan respons tubuh terhadap kecemasan yang terpendam, pikiran berlebihan (overthinking), dan rasa gelisah yang kronis.

Konteks Global dan Tantangan Lokal

Data global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun di dunia mengalami gangguan mental. Sayangnya, banyak dari kondisi ini yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Di Indonesia, tantangan ini diperburuk dengan masih adanya stigma negatif terkait kesehatan mental. Banyak orang tua yang merasa tabu membawa anak ke psikolog atau psikiater, dengan alasan takut dianggap "tidak normal" atau sekadar menganggap anak hanya "kurang ibadah" atau "kurang disiplin".

Analisis IDAI menunjukkan bahwa transisi dari masa kanak-kanak menuju remaja merupakan periode yang sangat rentan. Pada fase ini, anak mulai mencari identitas diri dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, termasuk media sosial yang sering kali menyajikan standar hidup yang tidak realistis. Tekanan untuk berprestasi di sekolah, ekspektasi orang tua, dan perundungan (bullying) di dunia maya menjadi pemicu utama yang semakin memperburuk kesehatan mental anak di Indonesia.

Strategi Intervensi dan Peran Orang Tua

IDAI menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui komunikasi dua arah yang efektif. Komunikasi bukan sekadar bertanya "bagaimana sekolah hari ini?", melainkan menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan ketakutan, kekecewaan, dan kebahagiaan mereka tanpa dihakimi.

IDAI ingatkan orang tua jalin komunikasi dan cermati perilaku anak

Dr. Angga menguraikan beberapa langkah konkret yang dapat diambil orang tua jika mendeteksi adanya indikasi gangguan kesehatan mental:

  1. Pola Hidup Sehat: Mengajak anak menerapkan pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur. Olahraga telah terbukti secara ilmiah mampu melepaskan endorfin yang membantu memperbaiki suasana hati.
  2. Edukasi Komprehensif: Orang tua perlu memberikan edukasi mengenai kekerasan fisik, psikologis, dan seksual, serta memberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, termasuk risiko pranikah dan penggunaan kontrasepsi untuk remaja yang sudah memasuki usia matang secara biologis.
  3. Pengawasan Lingkungan: Melindungi anak dari paparan zat berbahaya seperti rokok dan alkohol adalah mutlak. Penggunaan zat-zat ini pada remaja sering kali merupakan mekanisme koping yang salah dalam menghadapi depresi atau kecemasan.
  4. Reintegrasi Sosial: Mendorong anak kembali berpartisipasi dalam kegiatan positif di sekolah, seperti organisasi siswa, ekstrakurikuler olahraga, atau seni, dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membangun jaringan dukungan sosial bagi anak.

Pentingnya Deteksi Dini di Fasilitas Kesehatan

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam webinar tersebut adalah pentingnya keberanian orang tua untuk mencari bantuan profesional. Fasilitas kesehatan, baik Puskesmas yang memiliki layanan ramah anak maupun rumah sakit, kini semakin dilengkapi dengan tenaga medis yang mampu melakukan skrining kesehatan mental.

Deteksi dini memungkinkan intervensi dilakukan lebih awal sebelum gejala berubah menjadi perilaku yang membahayakan diri sendiri, seperti tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm) atau ide bunuh diri. IDAI menegaskan bahwa semakin cepat masalah diidentifikasi, semakin tinggi pula peluang pemulihan bagi anak.

Implikasi dan Rekomendasi untuk Masa Depan

Implikasi dari kurangnya perhatian terhadap kesehatan mental anak sangat luas, mulai dari penurunan performa akademik, gangguan perkembangan sosial, hingga masalah ekonomi dan produktivitas di masa depan saat anak beranjak dewasa. Oleh karena itu, pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan ekosistem.

Pihak sekolah diharapkan tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menjadi detektor awal bagi perubahan perilaku siswa. Guru yang terlatih untuk mengenali tanda-tanda gangguan mental dapat menjadi jembatan antara orang tua dan tenaga profesional kesehatan.

Bagi anak-anak dan remaja, IDAI memberikan pesan khusus: jangan memendam masalah sendirian. Bercerita kepada sosok yang dipercaya, baik itu orang tua, guru, atau teman sebaya yang suportif, adalah langkah awal untuk meringankan beban mental. Keberanian untuk bersuara adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.

Sebagai penutup, sinergi antara pemerintah, tenaga medis, sekolah, dan keluarga menjadi prasyarat mutlak untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental anak. Peringatan Hari Anak Nasional tahun 2026 ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi menjadi titik balik bagi orang tua di seluruh Indonesia untuk lebih peka dan proaktif dalam menjaga kesehatan jiwa generasi penerus bangsa.

Dengan komunikasi yang terbuka, pengawasan yang bijak, dan dukungan yang tulus, gangguan kesehatan mental pada anak bukan lagi menjadi ancaman yang menakutkan, melainkan sebuah tantangan yang dapat diatasi bersama demi masa depan anak yang lebih cerah dan sehat secara emosional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kapolri Pastikan Kepolisian Telah Tangkap Pelaku Karhutla di Sejumlah Wilayah untuk Menekan Angka Kebakaran Hutan dan Lahan 2026

21 Agustus 2026 - 15:41 WIB

Strategi Akselerasi SDM Kompeten Melalui Pelatihan Vokasi Nasional Guna Menjawab Tantangan Industri 2026

26 Juli 2026 - 06:51 WIB

Panduan Komprehensif Mengurus Lansia: Memahami Faktor Risiko Internal dan Eksternal Demi Kualitas Hidup yang Layak

26 Juli 2026 - 00:51 WIB

Mendagri Tito Karnavian Tegaskan Pembebasan BPHTB sebagai Strategi Utama Akselerasi Ekonomi Daerah Melalui Sektor Perumahan

25 Juli 2026 - 18:51 WIB

Momen Haru di Balik Jeruji Besi: Lapas Kelas IIA Yogyakarta Fasilitasi Pernikahan Putri Warga Binaan

25 Juli 2026 - 12:51 WIB

Trending di Peristiwa