Dataran Tinggi Dieng, yang terletak di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan wisatawan dan pengamat cuaca. Fenomena unik berupa embun beku atau yang oleh masyarakat lokal disebut "embun upas" kembali muncul menyelimuti permukaan rumput di kawasan Kompleks Candi Arjuna. Berdasarkan analisis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini diprediksi akan terjadi dengan intensitas yang lebih sering sepanjang musim kemarau tahun 2026 dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya.
Kondisi ini dipicu oleh karakteristik musim kemarau tahun ini yang diproyeksikan lebih kering dengan suhu udara yang cenderung lebih dingin. Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Guruh Tjiptanto, menegaskan bahwa fenomena embun upas merupakan indikator alamiah dari anomali suhu minimum di permukaan tanah yang mencapai titik beku, yakni nol derajat Celsius atau bahkan minus.
Memahami Fenomena Embun Upas dan Anomali Suhu
Sering terjadi kesalahpahaman di kalangan masyarakat bahwa embun upas adalah hasil dari suhu udara di wilayah tersebut yang mencapai titik beku secara merata. Namun, secara meteorologis, hal ini perlu diluruskan. Guruh Tjiptanto menjelaskan bahwa angka nol derajat atau minus yang kerap dilaporkan oleh warga maupun wisatawan sebenarnya bukanlah suhu udara bebas di ketinggian standar meteorologi, melainkan suhu minimum yang diukur pada permukaan rumput.
Proses terbentuknya embun upas berkaitan erat dengan fenomena pendinginan radiasi (radiative cooling). Pada malam hari dengan langit cerah tanpa tutupan awan, panas yang tersimpan di permukaan tanah dilepaskan kembali ke atmosfer secara maksimal. Di dataran tinggi seperti Dieng yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, proses pelepasan panas ini terjadi lebih cepat. Ketika suhu permukaan rumput mencapai titik beku, uap air di sekitar permukaan tersebut mengkristal menjadi es, yang kemudian tampak seperti salju tipis yang menutupi tanaman.
Analisis Tren Musim Kemarau 2026
BMKG mencatat bahwa musim kemarau 2026 memiliki pola yang hampir menyerupai kondisi iklim pada tahun 2023, di mana embun upas muncul secara konsisten. Faktor utama yang memengaruhi frekuensi kejadian ini adalah sifat musim kemarau yang "di bawah normal" atau lebih kering.
Data meteorologi menunjukkan bahwa puncak musim kemarau 2026 diprakirakan jatuh pada bulan Agustus, dengan kondisi kering yang terus berlanjut hingga September. Dalam kondisi atmosfer yang sangat kering, kelembapan udara menjadi rendah, yang justru memfasilitasi penurunan suhu permukaan yang lebih drastis saat malam hari. Fenomena "mbediding"—istilah Jawa untuk menggambarkan suhu udara yang sangat dingin di puncak kemarau—diprediksi akan terasa lebih menyengat pada tahun ini dibandingkan tahun 2024 dan 2025.
Bagi sektor pertanian, fenomena ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, embun upas menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan ekonomi lokal. Di sisi lain, bagi para petani kentang di Dieng, embun upas sering dianggap sebagai "upas" atau racun karena kristal es tersebut dapat merusak jaringan tanaman, membuat daun menjadi layu, menghitam, dan pada akhirnya menurunkan kualitas serta kuantitas hasil panen jika terjadi terus-menerus.

Kronologi dan Pola Kemunculan
Secara historis dan pengamatan rutin di lapangan, embun upas biasanya mulai terbentuk pada dini hari saat suhu mencapai titik terendah. Berikut adalah kronologi umum fenomena ini di kawasan Candi Arjuna:
- Tahap Pra-Pembentukan (22.00 – 02.00 WIB): Suhu udara mulai menurun secara signifikan seiring dengan berkurangnya tutupan awan di langit Dieng.
- Tahap Kristalisasi (03.00 – 05.00 WIB): Suhu permukaan rumput menyentuh angka 0 derajat Celsius atau di bawahnya. Uap air yang menempel pada daun rumput berubah menjadi kristal es.
- Tahap Puncak Visual (05.00 – 06.30 WIB): Embun upas terlihat paling jelas dan tebal. Ini adalah waktu di mana wisatawan biasanya mengabadikan momen.
- Tahap Pencairan (07.00 WIB ke atas): Seiring dengan munculnya sinar matahari, suhu permukaan meningkat dan kristal es mencair kembali menjadi embun cair biasa.
Rekomendasi Mitigasi bagi Wisatawan
Meningkatnya potensi kemunculan embun upas pada Agustus dan September 2026 diperkirakan akan menarik minat lebih banyak wisatawan untuk melakukan perjalanan ke Dieng. BMKG memberikan serangkaian rekomendasi teknis untuk memastikan kenyamanan dan kesehatan pengunjung selama berada di lokasi bersuhu ekstrem.
Wisatawan diimbau untuk menggunakan metode layering system atau pakaian berlapis. Pakaian yang disarankan meliputi:
- Lapisan Dasar (Base Layer): Pakaian dalam termal yang mampu menjaga suhu tubuh.
- Lapisan Tengah (Mid Layer): Sweater berbahan wol atau fleece untuk menahan panas tubuh.
- Lapisan Luar (Outer Layer): Jaket tebal yang tahan angin (windbreaker) untuk meminimalisir terpaan angin dingin pegunungan.
- Aksesori Tambahan: Penggunaan kupluk yang menutupi telinga, syal, sarung tangan, serta kaus kaki tebal sangat krusial untuk mencegah hipotermia ringan.
Bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti penderita asma, sinusitis, atau mereka yang memiliki alergi terhadap suhu dingin, membawa obat-obatan pribadi dan inhaler adalah kewajiban. Selain itu, udara pegunungan yang sangat kering saat puncak kemarau berisiko menyebabkan kulit kering dan bibir pecah-pecah. Penggunaan pelembap kulit (moisturizer) dan lip balm sangat disarankan bagi para pelancong.
Implikasi dan Kesiapan Sektor Pariwisata
Fenomena embun upas di Dieng bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan telah menjadi komoditas wisata yang signifikan. Dinas Pariwisata setempat bersama pihak terkait perlu melakukan sinkronisasi dengan data BMKG untuk memberikan peringatan dini kepada pelaku industri pariwisata.
Peningkatan jumlah pengunjung yang berburu embun upas menuntut kesiapan infrastruktur, mulai dari pengaturan parkir hingga fasilitas kesehatan darurat. Mengingat suhu yang mencapai titik beku dapat memicu reaksi fisik pada orang yang tidak terbiasa, kesiapsiagaan posko kesehatan di sekitar area wisata Candi Arjuna menjadi krusial.
Lebih jauh lagi, implikasi jangka panjang dari perubahan pola cuaca ini perlu diteliti lebih dalam. Apakah tren ini merupakan bagian dari variabilitas iklim alami atau berkaitan dengan perubahan iklim global yang lebih luas, tetap menjadi topik diskusi penting bagi para peneliti klimatologi. Hingga saat ini, BMKG terus memantau perkembangan data dari stasiun-stasiun pemantau di sekitar Dieng untuk memastikan informasi yang akurat tersampaikan kepada publik.
Dengan prediksi cuaca yang lebih dingin dan kering pada tahun 2026, kawasan Dieng bersiap menghadapi puncak musim kemarau yang intens. Wisatawan diharapkan tidak hanya mengejar keindahan visual dari fenomena embun upas, tetapi juga mengedepankan aspek keselamatan dan kenyamanan dengan memahami karakteristik lingkungan pegunungan yang ekstrem. BMKG berkomitmen untuk terus memperbarui data prakiraan cuaca secara berkala guna membantu masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengantisipasi dampak dari fenomena alam ini.









