Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan krusial dalam perjalanan ekonominya menuju target Indonesia Emas 2045. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, posisi Indonesia sebagai upper-middle income country (negara berpendapatan menengah atas) bukanlah garis finis, melainkan sebuah titik pijak untuk melakukan lompatan besar. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa untuk keluar dari middle income trap (jebakan pendapatan menengah), Indonesia harus segera mengeksekusi tiga agenda strategis yang fundamental.
Ketiga agenda tersebut mencakup transformasi hilirisasi ke arah nilai tambah tinggi, investasi masif pada modal manusia, serta reformasi regulasi yang menciptakan ekosistem bisnis efisien. Tanpa ketiga pilar ini, ambisi pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang kerap digadang-gadang pemerintah akan sulit tercapai, mengingat struktur ekonomi Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.
Transformasi Hilirisasi: Melampaui Bahan Mentah
Agenda pertama yang krusial adalah pergeseran paradigma hilirisasi. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia sukses melakukan hilirisasi di sektor pertambangan, khususnya nikel. Namun, Yusuf mengingatkan bahwa hilirisasi tidak boleh berhenti pada tahap pengolahan bahan mentah menjadi setengah jadi.
Nilai tambah yang sesungguhnya terletak pada industri hilir yang lebih dalam, seperti manufaktur baterai kendaraan listrik, komponen elektronik, hingga produk otomotif berbasis teknologi tinggi. Jika Indonesia hanya puas mengekspor bahan setengah jadi, maka potensi keuntungan ekonomi akan terbatas dan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Transformasi ini memerlukan penguasaan teknologi dan transfer pengetahuan yang lebih agresif dari investor asing kepada pelaku industri lokal.
Pembangunan Modal Manusia sebagai Mesin Pertumbuhan
Agenda kedua berkaitan dengan bonus demografi yang saat ini sedang dinikmati Indonesia. Bonus demografi hanyalah sebuah angka statistik jika tidak dibarengi dengan produktivitas tenaga kerja yang mumpuni. Investasi pada pendidikan, kesehatan, dan pelatihan vokasi harus dipercepat.
Data menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang lebih maju seperti Singapura atau bahkan Vietnam yang tengah tumbuh pesat. Kurikulum pendidikan yang tidak sinkron dengan kebutuhan industri, serta minimnya akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas di seluruh pelosok, menjadi hambatan utama. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bukan hanya soal ijazah, melainkan tentang kemampuan adaptasi tenaga kerja di tengah disrupsi teknologi dan digitalisasi ekonomi.
Reformasi Regulasi dan Efisiensi Iklim Usaha
Agenda ketiga adalah reformasi regulasi. Seringkali, iklim investasi di Indonesia terhambat oleh birokrasi yang tumpang tindih, ketidakpastian hukum, serta biaya logistik yang tinggi. Efisiensi iklim usaha menjadi syarat mutlak agar perusahaan, baik domestik maupun asing, berani menanamkan modal dalam skala yang lebih besar.
Pemerintah perlu memastikan bahwa regulasi yang diterbitkan mampu menciptakan kepastian hukum dan menyederhanakan proses perizinan. Tanpa efisiensi, Indonesia akan terus kalah bersaing dalam menarik investasi langsung asing (FDI) dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Vietnam yang semakin kompetitif dalam menarik relokasi pabrik dari Tiongkok.
Konteks Global dan Dinamika Ekonomi ASEAN
Penting untuk dicatat bahwa peta ekonomi kawasan ASEAN sedang mengalami pergeseran signifikan. Berdasarkan klasifikasi terbaru Bank Dunia, Vietnam dan Filipina kini telah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas. Hal ini menempatkan Indonesia dalam situasi persaingan yang lebih ketat.

Di sisi lain, Malaysia dan Thailand telah bertahan dalam status negara berpendapatan menengah atas selama beberapa dekade namun belum mampu menembus kelompok negara berpendapatan tinggi. Pengalaman kedua negara tersebut menjadi pengingat bagi Indonesia bahwa menjadi negara berpendapatan menengah atas bukanlah jaminan otomatis menuju kemajuan. Ada risiko stagnasi jika reformasi struktural tidak dijalankan dengan disiplin tinggi.
Bank Dunia menetapkan ambang batas Gross National Income (GNI) per kapita untuk tahun fiskal 2027 sebesar 4.636 hingga 14.375 dolar AS bagi negara berpendapatan menengah atas. Di atas 14.375 dolar AS, sebuah negara baru dikategorikan sebagai negara berpendapatan tinggi. Indonesia saat ini masih berada dalam rentang tersebut, namun upaya untuk melompat ke angka di atas 14.375 dolar AS membutuhkan usaha yang lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi konvensional.
Analisis Kesenjangan Regional
Yusuf Rendy Manilet menyoroti bahwa meskipun secara agregat kawasan ASEAN menunjukkan pertumbuhan, kesenjangan ekonomi antarnegara anggota masih sangat lebar. Kamboja, Laos, dan Myanmar masih terjebak di kelompok menengah bawah. Kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih integratif dalam kerangka ASEAN.
Integrasi regional diyakini lebih efektif daripada sekadar saling sikut menawarkan insentif pajak. Sebagai contoh, Indonesia dapat memperkuat perannya di sektor sumber daya alam dan hilirisasi, sementara Vietnam fokus pada manufaktur elektronik. Jika kedua negara ini dapat saling melengkapi dalam rantai pasok global, maka kawasan ASEAN akan menjadi ekosistem produksi yang lebih tangguh di mata investor global.
Tantangan Pertumbuhan Produktivitas
Salah satu kelemahan utama Indonesia yang diidentifikasi oleh para ekonom adalah lambatnya pertumbuhan produktivitas. Meskipun pasar domestik Indonesia sangat besar dan memberikan bantalan (buffer) yang kuat terhadap guncangan eksternal—seperti yang terlihat pada stabilitas makroekonomi selama periode krisis global—hal ini tidak cukup untuk mendorong status negara maju.
Pertumbuhan yang hanya mengandalkan konsumsi domestik cenderung bersifat jangka pendek. Untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang, sektor keuangan, pasar tenaga kerja, dan perdagangan harus direformasi secara mendalam. Stabilitas fiskal yang selama ini dijaga pemerintah harus dibarengi dengan kualitas belanja yang lebih produktif, bukan hanya belanja rutin yang tidak memberikan dampak pengganda (multiplier effect) terhadap ekonomi.
Implikasi Kebijakan: Menuju 2045
Menuju tahun 2045, waktu yang tersisa kurang dari dua dekade. Dalam rentang waktu tersebut, pemerintah dihadapkan pada pilihan kebijakan yang sulit namun harus diambil. Pertama, memperluas cakupan hilirisasi ke sektor yang memiliki nilai tambah tinggi (seperti petrokimia, farmasi, dan produk teknologi). Kedua, mengalokasikan anggaran pendidikan dan kesehatan yang lebih efektif, tidak hanya pada kuantitas, tetapi pada peningkatan kompetensi dan standar hidup. Ketiga, memangkas birokrasi yang menghambat investasi melalui sinkronisasi regulasi pusat dan daerah.
Reaksi dari pelaku pasar dan investor internasional terhadap agenda ini umumnya positif, namun mereka masih menunggu bukti konkret dari implementasi di lapangan. Investor mencari stabilitas, kepastian hukum, dan infrastruktur yang mendukung produktivitas. Jika Indonesia mampu memberikan ketiga hal tersebut, maka target menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 bukan sekadar mimpi di atas kertas.
Kesimpulan
Indonesia memiliki fondasi yang kuat berupa ukuran ekonomi yang masif dan stabilitas makroekonomi yang terjaga. Namun, jebakan pendapatan menengah adalah tantangan nyata yang telah menjatuhkan banyak negara berkembang lainnya. Tiga agenda yang diusulkan oleh CORE—hilirisasi bernilai tambah, investasi SDM, dan reformasi regulasi—merupakan peta jalan yang logis. Keberhasilan Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh konsistensi pemerintah dalam mengeksekusi agenda-agenda tersebut melampaui siklus politik lima tahunan. Transformasi ekonomi memerlukan keberanian untuk mengambil keputusan yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek, namun krusial bagi kesejahteraan generasi mendatang. Dengan kolaborasi regional yang lebih erat di ASEAN dan fokus pada peningkatan produktivitas, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan ini dan mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan ekonomi global yang signifikan.









