Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Simposium Internasional AOSCE 2026 di Yogyakarta Bedah Evolusi dan Mekanisme Hormon Reproduksi pada Vertebrata

badge-check


					Simposium Internasional AOSCE 2026 di Yogyakarta Bedah Evolusi dan Mekanisme Hormon Reproduksi pada Vertebrata Perbesar

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), resmi menjadi tuan rumah perhelatan ilmiah bergengsi berskala global, yaitu Simposium Internasional Asian and Oceania Society for Comparative Endocrinology (AOSCE). Acara yang berlangsung selama lima hari, mulai dari 5 hingga 9 Juli 2026 ini, menjadi titik temu bagi para pakar endokrinologi dari berbagai negara untuk mendiskusikan kemajuan mutakhir dalam ilmu endokrinologi komparatif. Fokus utama dari simposium ini adalah membedah sistem hormon pada berbagai organisme guna memahami fungsi, mekanisme biologis, serta bagaimana proses evolusi membentuk cara organisme mengatur pertumbuhan, metabolisme, dan reproduksi di tengah perubahan lingkungan yang dinamis.

Urgensi Endokrinologi Komparatif dalam Dunia Sains

Endokrinologi komparatif merupakan cabang ilmu yang vital dalam memahami kompleksitas kehidupan. Dengan membandingkan sistem hormon di berbagai spesies, ilmuwan dapat menarik benang merah tentang bagaimana mekanisme biologis yang serupa dipertahankan melalui evolusi jutaan tahun. Di era perubahan iklim dan degradasi lingkungan saat ini, pemahaman mendalam mengenai bagaimana hormon mengatur adaptasi organisme menjadi sangat krusial.

Simposium ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan upaya strategis untuk mengonsolidasikan pengetahuan tentang integrasi antara sistem saraf dan sistem hormon. Topik-topik yang dibahas mencakup mekanisme molekuler hormon, pengaruh stres lingkungan terhadap kesuburan, hingga kaitan erat antara perilaku sosial dan kesuksesan reproduksi. Dengan menghadirkan perwakilan dari berbagai universitas dan lembaga penelitian terkemuka di Asia dan Oceania, AOSCE 2026 diharapkan mampu melahirkan terobosan baru dalam pengelolaan kesehatan hewan dan konservasi spesies.

Kronologi dan Fokus Sesi Plenary

Agenda simposium yang padat dimulai pada 5 Juli 2026 dengan sesi pembukaan yang menekankan pentingnya kolaborasi riset lintas negara. Salah satu puncak acara yang paling dinanti adalah sesi pleno yang disampaikan oleh Presiden AOSCE, Ishwar S. Parhar. Dalam presentasinya yang berjudul Kisspeptin in the Social-Reproductive Brain, Parhar memaparkan temuan fundamental mengenai peran neuropeptida kisspeptin.

Selama ini, literatur medis konvensional menempatkan hormon pelepas gonadotropin (GnRH) sebagai pengatur utama sistem reproduksi. Namun, melalui riset intensif, Parhar membuktikan bahwa kisspeptin menduduki posisi yang lebih tinggi dalam hierarki regulasi reproduksi. Kisspeptin tidak hanya berfungsi sebagai "sakelar" bagi GnRH, tetapi juga sebagai integrator informasi lingkungan. Parhar menjelaskan bahwa otak organisme terus-menerus memproses data dari panca indra—seperti cahaya, aroma, dan interaksi sosial—sebelum memutuskan untuk mengaktifkan sistem reproduksi.

UGM jadi Tuan Rumah Simposium Internasional Perhimpunan Endokrinologi Komparatif Asia dan Oseania 

Peran Strategis UGM sebagai Hub Riset Internasional

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menegaskan bahwa kepercayaan internasional yang diberikan kepada FKH UGM merupakan cerminan dari reputasi riset yang konsisten. Dalam pandangan UGM, FKH memiliki peran multifungsi, yakni sebagai penggerak kemajuan ilmu pengetahuan, penyedia layanan kesehatan hewan, serta instansi yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

"Kami sangat bangga menjadi tuan rumah bagi simposium ini. FKH UGM terus berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada tataran akademis, tetapi juga memastikan bahwa hasil-hasil riset endokrinologi ini dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah nyata, baik dalam peternakan maupun perlindungan satwa," ujar Danang dalam pidato sambutannya.

Dukungan serupa datang dari Ishwar S. Parhar yang memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen panitia penyelenggara dari Indonesia. Menurut Parhar, efektivitas kolaborasi internasional sangat bergantung pada dedikasi tim lokal, dan panitia AOSCE 2026 dinilai telah memenuhi standar profesionalisme global dalam pengelolaan acara ilmiah berskala besar.

Kisspeptin: Jembatan Antara Emosi, Sosial, dan Biologi

Analisis lebih mendalam mengenai mekanisme kisspeptin mengungkapkan implikasi yang luas bagi dunia kedokteran dan biologi reproduksi. Parhar menyoroti bahwa reproduksi bukan sekadar peristiwa biologis yang terisolasi dari lingkungan. Organisme yang hidup dalam kondisi stres sosial—seperti persaingan wilayah yang ketat—mengalami peningkatan hormon penghambat (gonadotropin-inhibitory hormone atau GnIH).

Studi kasus pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipaparkan dalam simposium memberikan bukti empiris yang kuat. Ikan yang kalah dalam kompetisi sosial tidak hanya menunjukkan penurunan nafsu makan dan hambatan pertumbuhan, tetapi juga mengalami kegagalan reproduksi total akibat ketidakseimbangan hormon yang dipicu oleh stres. Hal ini menunjukkan bahwa sistem reproduksi adalah sistem yang paling sensitif terhadap perubahan eksternal.

Kesamaan mekanisme kisspeptin pada berbagai spesies vertebrata—mulai dari ikan hingga mamalia—mengonfirmasi bahwa sistem ini adalah warisan evolusioner yang krusial. Temuan ini membuka ruang bagi riset baru yang lebih luas, tidak hanya di bidang reproduksi hewan, tetapi juga berpotensi memberikan wawasan baru bagi kesehatan manusia, terutama dalam memahami gangguan reproduksi yang dipicu oleh stres psikososial.

UGM jadi Tuan Rumah Simposium Internasional Perhimpunan Endokrinologi Komparatif Asia dan Oseania 

Dampak dan Implikasi bagi Dunia Riset di Masa Depan

Simposium ini menghasilkan beberapa implikasi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa depan:

  1. Pergeseran Paradigma Riset: Fokus penelitian endokrinologi mulai bergeser dari sekadar melihat hormon reproduksi secara tunggal ke arah pendekatan neuroendokrinologi yang integratif. Artinya, penelitian di masa depan akan lebih banyak mengaitkan emosi, lingkungan, dan perilaku sosial dengan fungsi sistem reproduksi.
  2. Kolaborasi Global: Melalui jaringan yang terbangun selama simposium 5–9 Juli 2026, diharapkan tercipta proyek penelitian kolaboratif lintas negara. Hal ini akan mempercepat pertukaran data, sampel biologis, dan teknologi laboratorium antarnegara di kawasan Asia dan Oceania.
  3. Aplikasi Praktis dalam Peternakan: Pemahaman mengenai bagaimana stres memengaruhi reproduksi melalui mekanisme GnIH dan kisspeptin dapat diterapkan oleh industri peternakan untuk meningkatkan produktivitas ternak dengan menciptakan lingkungan yang minim stres.
  4. Konservasi Satwa Langka: Pengetahuan mengenai pengaruh lingkungan terhadap hormon reproduksi sangat krusial bagi upaya penangkaran spesies langka yang sering kali gagal bereproduksi di penangkaran akibat ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kesimpulan: Menuju Era Baru Neuroendokrinologi

Simposium AOSCE 2026 di FKH UGM telah berhasil menempatkan Indonesia di peta riset endokrinologi dunia. Dengan keberhasilan penyelenggaraan acara ini, diharapkan para ilmuwan muda Indonesia dapat lebih aktif terlibat dalam jaringan ilmiah internasional. Penekanan pada keterkaitan antara otak, lingkungan, dan sistem reproduksi bukan hanya memberikan wawasan teoretis, tetapi juga menawarkan solusi praktis untuk tantangan-tantangan biologis modern.

Sebagai penutup, simposium ini mengingatkan kita bahwa setiap organisme, sekecil apa pun, merupakan sistem yang sangat terintegrasi dengan lingkungannya. Keberhasilan reproduksi, sebagai fondasi kelangsungan hidup spesies, sangat bergantung pada keseimbangan antara apa yang dirasakan otak dari dunia luar dan bagaimana hormon menanggapi informasi tersebut. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai mekanisme ini, ilmu pengetahuan melangkah satu tingkat lebih dekat menuju penyelesaian berbagai gangguan reproduksi, baik pada hewan maupun manusia, yang selama ini masih menjadi misteri medis.

Kesuksesan acara yang didukung oleh kepemimpinan UGM dan IPB ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antarlembaga pendidikan tinggi di Indonesia mampu menghadirkan kontribusi signifikan bagi kemajuan sains global. Seluruh pihak yang terlibat, mulai dari peneliti, panitia, hingga pendukung operasional, telah memberikan kontribusi penting bagi keberlanjutan riset endokrinologi yang lebih inklusif dan solutif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Indonesia di Ambang Krisis Iklim: Ancaman Nyata, Dampak Sistemik, dan Urgensi Adaptasi Berbasis Tata Ruang

6 Juli 2026 - 18:37 WIB

Akselerasi B50 Menuju Kemandirian Energi Nasional Tantangan Teknis dan Strategi Diversifikasi Bahan Baku

6 Juli 2026 - 12:37 WIB

Sinergi UGM dan Kagama Aceh dalam Pemulihan Pasca Bencana Banjir Bandang di Aceh Tamiang

6 Juli 2026 - 06:37 WIB

Universitas Gadjah Mada Perkuat Sinergi Pengabdian Masyarakat melalui KKN-PPM dan Penanganan Dampak Bencana di Sumatera dan Aceh

6 Juli 2026 - 00:37 WIB

Revitalisasi Kejayaan Rempah Nusantara Melalui Riset Biodiversitas dan Inovasi Berkelanjutan di Era Global

4 Juli 2026 - 06:37 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya