Sepuluh mahasiswa penerima Beasiswa Bakti BCA 2026 yang tergabung dalam Tim Endurance Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menuntaskan misi pengabdian masyarakat melalui program Bakti Champions Movement 2026. Fokus utama dari inisiatif ini adalah pendampingan strategis terhadap UMKM Tahu milik Riyanto, seorang pelaku usaha di sentra tahu Wirobrajan, Yogyakarta. Selama periode Mei hingga Juni 2026, tim ini berhasil menerapkan serangkaian inovasi mulai dari pengelolaan limbah sirkular, digitalisasi pemasaran, hingga modernisasi sistem administrasi keuangan yang sebelumnya dikelola secara konvensional.
Upaya ini menjadi jawaban atas tantangan krusial yang dihadapi banyak UMKM di Indonesia, yakni keterbatasan sumber daya manusia dalam mengadopsi teknologi dan pengelolaan limbah produksi yang seringkali mencemari lingkungan. Melalui pendampingan ini, Tim Endurance membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pelaku usaha lokal dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Latar Belakang dan Tantangan UMKM Tahu di Wirobrajan
Usaha tahu milik Riyanto yang berdiri sejak tahun 2018 merupakan potret nyata dari UMKM tradisional yang memiliki ketahanan luar biasa namun rentan terhadap disrupsi. Sejak berdiri, unit usaha ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga dengan sistem operasional yang sangat bergantung pada metode tradisional. Tantangan mencapai titik puncak saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada 2020-2022. Pada periode tersebut, banyak pelaku UMKM di Yogyakarta terpaksa gulung tikar akibat penurunan daya beli masyarakat dan terbatasnya akses terhadap pasar digital.
Riyanto mengakui bahwa keterbatasan modal serta penggunaan alat produksi yang masih bersifat konvensional menjadi penghambat utama dalam meningkatkan kapasitas produksi. Selain aspek produksi, pengelolaan keuangan yang bercampur antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan usaha menjadi kendala administratif yang membuat pertumbuhan usaha stagnan. Sebelum intervensi dari Tim Endurance, catatan keuangan di unit usaha tersebut hampir tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga sulit untuk mengukur tingkat profitabilitas secara akurat.
Kronologi Program Bakti Champions Movement 2026
Program yang dijalankan oleh Kevin Abigael Bakara, Almayla Taorayudha, Elga Manik, Maulana Faris Al Ghifari, Piang Amporn Yimyam, Jens Preston Tananta, Muhammad Rafif Hakim, Kartika Kirana Indrastuti, Nabilla Raihana Vildha, dan Helena Natania Setyasari ini dilaksanakan dalam beberapa tahap sistematis:
- Tahap Observasi (Mei 2026): Tim melakukan pemetaan masalah di lapangan, meliputi identifikasi alur produksi, pengelolaan limbah cair, dan pola pemasaran yang dilakukan oleh Riyanto.
- Tahap Diskusi dan Perencanaan (Mei 2026): Mahasiswa berdialog dengan mitra untuk menyelaraskan kebutuhan usaha dengan solusi yang bisa ditawarkan oleh tim.
- Tahap Implementasi (Juni 2026): Eksekusi program yang mencakup pendampingan digitalisasi keuangan, pembuatan media promosi, dan edukasi pengelolaan limbah.
- Tahap Evaluasi (Akhir Juni 2026): Peninjauan keberhasilan sistem baru yang telah diterapkan dan penandatanganan nota kesepahaman kolaborasi dengan instansi terkait.
Inovasi Pengelolaan Limbah: Menuju Ekonomi Sirkular
Salah satu pencapaian paling signifikan dari Tim Endurance adalah perubahan paradigma dalam memandang limbah cair tahu. Limbah cair tahu, yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan, diolah menjadi pupuk organik cair (POC). Langkah ini tidak hanya mengurangi pencemaran di kawasan Wirobrajan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi Riyanto.
Untuk memperkuat inovasi ini, tim memfasilitasi kerja sama antara UMKM Tahu Pak Riyanto dengan Pusat Pengembangan Ternak Fakultas Peternakan UGM. Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), limbah cair tahu akan diuji coba sebagai bahan baku molase untuk pakan ternak. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Viagian Pastawan, S.Pt., M.Sc., Ph.D., yang turut hadir dalam sosialisasi tersebut, menegaskan bahwa pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai jual adalah kunci keberlanjutan usaha di masa depan. Pendekatan ini merupakan implementasi nyata dari konsep ekonomi sirkular, di mana output dari satu proses produksi menjadi input bagi proses lainnya.

Digitalisasi Keuangan dan Penguatan Branding
Dalam upaya meningkatkan profesionalitas, Tim Endurance memperkenalkan sistem pencatatan keuangan berbasis Microsoft Excel. Sistem ini dirancang khusus untuk mempermudah pelaku usaha dalam melakukan pemisahan antara uang pribadi dan modal usaha. Fitur-fitur yang disertakan meliputi:
- Pencatatan Arus Kas: Melacak setiap rupiah yang masuk dari penjualan dan keluar untuk biaya operasional harian.
- Perhitungan Harga Jual: Membantu mitra dalam menentukan harga yang kompetitif namun tetap memberikan margin keuntungan yang sehat.
- Manajemen Piutang: Mencatat transaksi tidak tunai agar tidak terjadi kebocoran modal.
- Laporan Laba Rugi Periodik: Memberikan gambaran nyata bagi pemilik usaha mengenai kesehatan finansial usahanya.
Selain aspek keuangan, tim juga membantu melakukan peremajaan identitas visual atau branding. Dengan memanfaatkan platform media sosial dan digital, usaha tahu Pak Riyanto kini memiliki media promosi yang lebih menarik, memungkinkan jangkauan pasar yang lebih luas di luar wilayah Wirobrajan.
Tanggapan Pihak Terkait dan Analisis Dampak
Kevin Abigael Bakara, selaku ketua tim, menyatakan bahwa fokus utama dari kegiatan ini bukan sekadar bantuan jangka pendek, melainkan dampak yang terukur. Menurutnya, UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional, dan memberikan mereka akses terhadap pengetahuan modern adalah investasi strategis.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan oleh mahasiswa UGM ini memiliki implikasi luas:
- Peningkatan Daya Saing: Dengan adanya sistem keuangan yang rapi, UMKM lebih mudah mengakses pembiayaan perbankan atau modal ventura di masa depan karena memiliki rekam jejak keuangan yang kredibel.
- Mitigasi Dampak Lingkungan: Pemanfaatan limbah cair secara sirkular mengurangi beban limbah pada ekosistem lokal, sekaligus menurunkan biaya operasional jika pupuk atau pakan tersebut digunakan secara mandiri.
- Transfer Pengetahuan: Program ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor riil. Mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis (experiential learning), sementara pelaku UMKM mendapatkan akses pada inovasi riset universitas.
Keberlanjutan Program di Masa Depan
Keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi model percontohan bagi program pengabdian masyarakat lainnya di UGM maupun universitas lain di Indonesia. Tim Endurance menyadari bahwa tantangan pasca-pendampingan adalah menjaga konsistensi mitra dalam menggunakan sistem yang telah dibangun. Oleh karena itu, edukasi dan pendampingan berkelanjutan menjadi elemen kunci agar perubahan perilaku yang terjadi tidak bersifat sementara.
Ke depan, diharapkan lebih banyak UMKM di Yogyakarta yang dapat tersentuh oleh program serupa. Dengan mengintegrasikan teknologi tepat guna, manajemen keuangan profesional, dan kepedulian terhadap lingkungan, sektor UMKM Indonesia diyakini mampu naik kelas dan lebih tangguh menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin tidak menentu.
Kegiatan yang berakhir pada 22 Juni 2026 ini menutup rangkaian pengabdian yang intensif namun produktif. Keberhasilan Tim Endurance UGM membuktikan bahwa dengan inovasi sederhana yang tepat sasaran, UMKM lokal dapat bertransformasi menjadi unit usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif bagi masyarakat luas.









